Pena yang Patah dan Matinya Harapan di Tanah Ngada

Sumber foto https://portal-islam.id

Dunia pendidikan kita baru saja dihantam sebuah paradoks yang memilukan. Di tengah riuh rendah pembicaraan soal digitalisasi sekolah dan transformasi kurikulum, seorang bocah berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memilih untuk mengakhiri hidupnya. Ironisnya, pemicunya diduga hanya karena persoalan "remeh" di mata birokrasi, namun raksasa di mata seorang anak: sebuah buku dan pena.

Surat wasiat almarhum yang ditulis dalam bahasa daerah bukan sekadar salam perpisahan. Ia adalah sebuah manifesto kegagalan kolektif. Ketika seorang anak kelas IV SD merasa bahwa kematian adalah solusi yang lebih ringan daripada menanggung rasa bersalah karena meminta alat tulis kepada ibunya yang kesulitan, di situlah kita harus berhenti sejenak dan bertanya: Di mana negara saat itu?

Kemiskinan yang Menghancurkan Logika Anak

Tragedi ini membongkar tabir "kemiskinan struktural" yang masih menghantui pelosok negeri. Bagi keluarga dengan lima anak dan orang tua tunggal yang bekerja serabutan, uang beberapa ribu rupiah untuk membeli pena bukan sekadar angka di atas kertas; itu adalah pilihan antara perut yang kenyang atau pendidikan yang layak.

Anak-anak di lingkungan seperti ini sering kali mengalami pendewasaan paksa. Almarhum  tidak hanya melihat ibunya bekerja, ia "merasakan" beban ibunya. Ketika permintaan untuk perlengkapan sekolah ditolak, yang muncul bukan sekadar kekecewaan, melainkan rasa bersalah yang akut (toxic guilt). Ia merasa dirinya adalah beban tambahan bagi kemiskinan keluarganya. Inilah yang disebut dengan learned helplessness—sebuah kondisi di mana seseorang merasa tidak ada lagi jalan keluar dari penderitaan yang bertubi-tubi.

Pendidikan yang Kehilangan "Hati"

Sangat miris melihat kenyataan bahwa di tengah anggaran pendidikan yang fantastis, jaring pengaman di tingkat paling dasar yaitu sekolah masih sangat rapuh. Sekolah seharusnya menjadi sanctuary atau tempat perlindungan terakhir bagi anak-anak dari latar belakang ekonomi lemah.

Kasus Almarhum adalah bukti bahwa guru dan sistem sekolah kita belum sepenuhnya mampu mendeteksi sinyal bahaya psikologis. Jika seorang anak mulai terlihat murung karena masalah ekonomi, seharusnya ada mekanisme bantuan langsung yang tidak birokratis. Tidak boleh ada satu pun anak di republik ini yang merasa nyawanya lebih murah daripada harga sebuah alat tulis.

Refleksi Akhir: Alarm bagi Kita Semua

Wafatnya Bocah SD ini adalah sebuah "alarm keras" bagi pemerintah dan kita semua sebagai masyarakat. Kita terlalu sering fokus pada angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi, namun abai pada detak jantung anak-anak di pelosok yang tercekik oleh kebutuhan dasar.

Kepergian almarhum harus menjadi titik balik. Kita tidak bisa lagi membiarkan bantuan sosial salah sasaran atau terlambat sampai ke tangan mereka yang benar-benar membutuhkan. Jangan sampai ada lagi pena yang patah sebelum sempat menggoreskan cita-cita, hanya karena tinta harapan mereka telah kering oleh kemiskinan yang diabaikan. [ir/050226]

 

Posting Komentar

0 Komentar