Hari Raya 1447 H, Rindu Ini Tidak Punya Tempat Untuk Pulang

Foto Kenangan : Jum'at, 1 Syawal 1388 H/20 Desember 1968

Dulu, rumah itu hidup…
Ada suara mak di dapur sejak subuh, ada bapak yang sibuk menata segalanya seolah hari raya adalah momen paling sakral dalam hidup.
Kami pulang dengan rindu, duduk bersila, tertawa tanpa beban dan waktu terasa begitu cukup.

Kini… mak dan bapak telah tiada.
Yang tersisa hanya kami, adik-beradik, seperti buah rambai yang jatuh bertaburan—masing-masing sibuk dengan arah hidupnya sendiri.

Hari raya masih datang, tapi rasanya tidak lagi singgah.
Ia hanya lewat seperti rutinitas tahunan, tanpa hangat, tanpa pelukan yang dulu selalu menenangkan.

Rumah yang dulu penuh suara kini lebih banyak diam.
Tawa ada, tapi terasa jauh.
Kumpul ada, tapi tak lagi utuh.

Anak-anak kita, mereka tumbuh di dunia yang berbeda.
Asyik dengan layar ponselnya, dengan dunianya sendiri.
Mereka tidak pernah benar-benar merasakan bagaimana hangatnya hari raya yang dulu kita miliki.

Dan kita.., hanya bisa saling berpandangan, diam-diam menahan rindu yang tak lagi punya alamat.

Ternyata…
Hari raya bukan tentang baju baru, bukan tentang hidangan, bukan tentang tradisi yang berulang.
Hari raya adalah tentang mereka, yang kini hanya tinggal dalam doa.

Selamat hari raya, Mak…
Selamat hari raya, Bapak…
Kami rindu… dengan cara yang tidak pernah bisa selesai.

1 Syawal 1447 H

Irwandi Aziz

Taqabballahu minnaa waminkum

Uni, Uda, Adik2, Anak-2ku,
para ipar dan ponakan2

#HariRayaTanpaMakBapak
#RinduYangTakPernahPulang
#CeritaDiBalikLebaran
#SunyiDiHariYangRamai
#KenanganYangTersisa
#TakkanUsaiRinduIni

Posting Komentar

0 Komentar