Negeri di Mana Guru Disuruh Berkualitas oleh Sistem yang Gagal Berpikir

gambar hanya ilustrasi

Ketika Mulan Jameela berkata “guru harus meningkatkan kualitas, jangan hanya menuntut gaji tinggi”, itu bukan sekadar pernyataan yang keliru itu adalah potret telanjang dari cara kekuasaan memandang orang-orang yang benar-benar bekerja mencerdaskan bangsa.

Di satu sisi, ada guru, mengajar dengan gaji Rp300 ribu, bertahan dengan idealisme yang makin hari makin terkikis realitas.

Di sisi lain, ada wakil rakyat, duduk nyaman, bicara lantang, dengan kualitas yang seringkali bahkan tak pernah diuji secara serius.

Dan ironinya, yang lapar disuruh meningkatkan kualitas, sementara yang kenyang sibuk memberikan ceramah.

Ini bukan lagi ironi.
Ini penghinaan yang dibungkus nasihat.

Seolah-olah negara berkata :
“Kalau kamu miskin, itu karena kamu kurang berkualitas.”
Bukan karena sistem yang memang sengaja membiarkanmu tetap di bawah.

Lalu mari kita balik pertanyaannya secara brutal dan jujur :

Kalau guru harus berkualitas, kenapa anggota DPR tidak diwajibkan punya standar intelektual yang sama?

Kenapa cukup dengan popularitas, koneksi, atau suara terbanyak, seseorang bisa ikut menentukan arah bangsa ?

Kenapa profesi yang membentuk masa depan anak-anak bangsa harus melewati seleksi ketat, sementara profesi yang menentukan masa depan negara… cukup lolos dari panggung politik?

Jawabannya sederhana, karena sistem ini tidak dibangun untuk menghasilkan yang terbaik, tapi untuk memenangkan yang paling laku dijual.

Dan di titik itu, demokrasi berubah fungsi dari mekanisme memilih yang layak, menjadi pasar bebas untuk menjual siapa saja yang paling “menarik”.

Jangan salahkan Mulan Jameela sepenuhnya. Ia hanya produk. Produk dari sistem yang lebih menghargai elektabilitas daripada kapasitas.

Masalah utamanya bukan pada siapa yang bicara, tapi pada siapa yang memilih.

Karena selama suara bisa dibeli, selama nurani bisa ditukar dengan amplop,
selama popularitas lebih mahal dari kualitas maka jangan heran kalau suatu hari, yang berdiri di mimbar kekuasaan bukanlah mereka yang layak, tapi mereka yang sekadar… terpilih.

Dan pada hari itu, guru-guru tetap akan diminta meningkatkan kualitas oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah diuji kualitasnya. 💀🔥[280326]

Posting Komentar

0 Komentar