Anak Kolong, Kenangan yang Tak Pernah Pensiun

 

Di antara banyak sebutan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Indonesia, ada satu istilah yang begitu akrab di telinga keluarga besar TNI dan Polri anak kolong.

Bagi sebagian orang, istilah itu mungkin terdengar unik, bahkan mengundang tanya. Mengapa putra-putri prajurit dan aparat negara disebut anak kolong? Apakah ada kisah yang tersembunyi di balik nama itu?

Sesungguhnya, jawabannya bukanlah kisah tentang pangkat atau kehormatan. Ia justru lahir dari kesederhanaan.

Pada masa-masa ketika kehidupan di asrama militer masih jauh dari kemewahan, para prajurit hidup bersama keluarga mereka dalam ruang yang serba terbatas. Di rumah-rumah dinas yang sederhana, di barak-barak yang penuh cerita pengabdian, tumbuh anak-anak yang menghabiskan masa kecilnya dengan cara yang mungkin tak lagi banyak dijumpai hari ini.

Mereka berlarian di halaman asrama, bermain hingga senja, bercanda tanpa mengenal sekat pangkat orang tua. Ketika lelah datang, kolong tempat tidur besi sering menjadi tempat persembunyian, tempat bermain, bahkan tempat beristirahat yang paling nyaman bagi mereka. Dari sanalah, perlahan-lahan, masyarakat mengenal mereka dengan sebutan "anak kolong".

Namun waktu adalah penulis kisah yang paling setia. Ia mengubah sebuah sebutan sederhana menjadi identitas yang sarat makna.

Anak kolong kemudian bukan lagi tentang kolong tempat tidur. Ia menjadi simbol sebuah kehidupan. Kehidupan yang ditempa oleh perpindahan tugas, oleh perpisahan yang kadang tak terhindarkan, oleh kerinduan kepada orang tua yang sedang bertugas menjaga negeri.

Mereka tumbuh menyaksikan bagaimana seorang ayah atau ibu mengenakan seragam bukan untuk mencari kemuliaan pribadi, melainkan untuk mengabdi kepada bangsa. Mereka belajar bahwa tugas negara sering kali harus didahulukan, bahkan ketika keluarga sedang membutuhkan kehadiran.
Dari lingkungan itulah lahir karakter yang khas. Ketangguhan dalam menghadapi perubahan. Kesederhanaan dalam menjalani kehidupan. Kesetiaan dalam menjaga persahabatan. Dan yang terpenting, kecintaan kepada tanah air yang tumbuh bukan dari pidato, melainkan dari teladan yang mereka lihat setiap hari.

Maka jika hari ini ada yang menyebut dirinya anak kolong, sesungguhnya ia sedang menyebut sebuah sejarah. Sejarah tentang masa kecil yang tumbuh di lingkungan pengabdian. Sejarah tentang keluarga-keluarga yang hidup sederhana namun kaya akan nilai perjuangan.

Anak kolong bukanlah pangkat. Bukan pula gelar kehormatan yang disematkan oleh negara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

Ia adalah nama yang lahir dari lorong-lorong asrama, dari suara peluit pagi di barak-barak prajurit, dari langkah-langkah kecil anak-anak yang tumbuh di antara cerita pengabdian.

Dan hingga hari ini, nama itu tetap hidup. Bukan karena kolong tempat tidur yang pernah menjadi saksi masa kecil mereka, melainkan karena nilai-nilai yang tumbuh darinya: disiplin, kesetiaan, persaudaraan, dan kecintaan kepada Indonesia.

Sebab pada akhirnya, anak kolong bukan sekadar sebutan.

Ia adalah cerita.
Ia adalah kenangan.
Ia adalah identitas yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. [ir/060626]

 

Posting Komentar

0 Komentar