![]() |
| Gambar cuma ilustrasi AI |
Dulu saya kira setelah selesai menjabat, seorang presiden akan kembali menjadi rakyat biasa. Sesekali jadi pembicara seminar, menulis buku, mengurus cucu, berkebun atau menikmati masa pensiun.
Begitulah yang banyak dilakukan para mantan presiden di berbagai negara. Mereka meninggalkan panggung kekuasaan, bukan membawa panggungnya pulang.
Namun, belakangan muncul fenomena yang cukup unik. Kalau mantan presiden lain pensiun dari politik, yang satu ini justru terlihat seperti belum selesai "shift"-nya. Aktivitas politik tetap padat, sorotan publik terus mengarah, dan dinamika kekuasaan seolah masih berputar di sekitar nama yang sama.
Sampai-sampai muncul pertanyaan bercanda : "Ini sebenarnya mantan presiden atau presiden edisi after sales ?"
Dalam demokrasi, pergantian kepemimpinan bukan sekadar serah terima jabatan, tetapi juga serah terima panggung. Karena demokrasi yang sehat bukan hanya soal tahu cara memimpin, tetapi juga tahu kapan memberi ruang kepada pemimpin berikutnya. Kalau tidak, rakyat bisa bingung. Yang resmi sudah berganti, tetapi yang terasa masih orang yang sama.
Akhirnya muncul istilah baru, Bukan lengser keprabon, melainkan upgrade ke "Raja Purnabakti". Tentu semua warga negara berhak berpolitik, termasuk mantan presiden. Namun, semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya agar kehadirannya memperkuat demokrasi, bukan membuat publik bertanya-tanya siapa sebenarnya yang masih memegang kendali.
Karena dalam negara demokrasi, yang seharusnya abadi adalah konstitusi, bukan bayang-bayang kekuasaan. [ir/290626]

0 Komentar