Saat Penguasa Lebih Percaya Gema daripada Suara

Gambar Hasil Imajinasi AI

Ada satu penyakit yang sering datang bukan karena usia, melainkan karena kekuasaan, hidup di dalam imajinasi sendiri. Semakin tinggi seseorang duduk, semakin besar godaan untuk hanya mendengar tepuk tangan. Kritik dianggap gangguan, masukan dianggap serangan, sementara pujian meski berlebihan diterima sebagai kebenaran.

Lama-kelamaan ia tidak lagi hidup di dunia nyata, melainkan di dunia yang dibangun oleh orang-orang yang takut berkata jujur. Di ruang itu, semua laporan selalu "baik". Semua program selalu "berhasil". Semua keputusan selalu "tepat". Yang salah hanyalah rakyat yang "kurang paham". Padahal kenyataan tidak pernah bisa dikalahkan oleh narasi.

Sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa banyak pemimpin besar tidak jatuh karena musuh yang kuat, tetapi karena telinganya tertutup. Mereka lebih percaya pada lingkaran kecil yang hanya pandai berkata, "Siap, Pak... Luar biasa, Pak... Semua aman, Pak."

Pemimpin yang hanya mau mendengar pujian ibarat kapten kapal yang memecat semua orang yang melaporkan adanya kebocoran. Kapalnya memang terasa tenang, tetapi hanya sampai akhirnya tenggelam.

Kritik yang jujur bukan ancaman bagi kekuasaan. Justru kritik adalah alarm yang menyelamatkan kekuasaan dari kesalahan yang lebih besar. Orang bijak tidak mencari orang yang selalu membenarkan dirinya. Ia mencari orang yang berani menunjukkan letak kekeliruannya.

Karena pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang tidak pernah salah, melainkan pemimpin yang masih cukup rendah hati untuk berkata, "Mungkin saya perlu mendengar lebih banyak."

Sebab ketika seorang pemimpin mulai hidup dalam imajinasinya sendiri, yang pertama kali hilang bukanlah jabatan, melainkan kemampuan melihat kenyataan. Dan ketika kenyataan akhirnya datang mengetuk pintu, ia tidak pernah bertanya apakah kita siap atau tidak.

Jangan takut pada kritik yang menyakitkan. Takutlah pada pujian yang meninabobokan. Sebab banyak kerajaan runtuh bukan karena terlalu banyak dikritik, melainkan karena terlalu lama hidup di dalam gema pujian.  [ir/270626]

Posting Komentar

0 Komentar