![]() |
| Gambar Ilustrasi AI |
Artificial Intelligence (AI) sedang mengubah cara UMKM dan industri kreatif bekerja. Membuat desain, video promosi, katalog produk, copywriting, analisis pasar hingga pelayanan pelanggan kini bisa dilakukan jauh lebih cepat dan murah. Bagi UMKM, AI berpotensi menjadi “asisten digital” yang bekerja 24 jam tanpa harus menambah banyak tenaga kerja.
Tetapi ada sisi lain yang sering luput dari pembicaraan.
AI memang terlihat hanya seperti aplikasi di layar ponsel, padahal di belakangnya ada pusat data raksasa yang membutuhkan listrik dan sistem pendingin dalam jumlah besar. IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data global mencapai sekitar 485 TWh pada 2025 dan dapat mendekati 950 TWh pada 2030. (IEA)
Persoalan berikutnya adalah air. Sebagian pusat data menggunakan sistem pendingin berbasis evaporasi; air digunakan untuk membuang panas dari peralatan dan sebagian menguap dalam proses pendinginan. Karena itu, konsumsi air pusat data perlu diperhitungkan bersama kebutuhan listriknya. (The Department of Energy's Energy.gov)
Maka pertanyaannya bukan “AI atau tidak AI?”, pertanyaannya adalah :
Bagaimana UMKM bisa mendapatkan manfaat AI tanpa membuat biaya lingkungan menjadi tagihan yang diwariskan kepada masyarakat ?
Alternatifnya, AI yang lebih hemat sumber daya :
Ironisnya, AI dapat membantu manusia menjadi lebih efisien, tetapi infrastruktur AI sendiri harus dibuat semakin efisien. Jadi, masa depan bukan sekadar “AI untuk semua”, melainkan “AI yang bermanfaat, hemat energi, hemat air, dan masuk akal secara ekonomi.” Karena kalau tidak, jangan sampai UMKM sedang sibuk membuat konten promosi dengan AI, sementara di belakang layar bumi sedang membayar biaya pendinginnya. [ir/260926]

0 Komentar